DILARANG BUANG SAMPAH DI BLOG INI

I Remember

I remember…The way you glanced at me, yes I remember

I remember…When we caught a shooting star, yes I remember
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

Do you remember..?
When we were dancing in the rain in that december
And I remember..When my father thought you were a burglar
I remember.. All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember.. All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn

I remember.. The way you read your books,
yes I remember
The way you tied your shoes,
yes I remember
The cake you loved the most,
yes I remember
The way you drank you coffee,
I remember
The way you glanced at me, yes I remember
When we caught a shooting star,
yes I remember
When we were dancing in the rain in that december
And the way you smile at me,
yes I remember.................


~mocca~

Showing posts with label fairytale. Show all posts
Showing posts with label fairytale. Show all posts

Wednesday, June 10, 2009

Fairytale of Roro Jongrang



In the ancients, there is a large kingdom called Prambanan. People living tenteran and peaceful. But, what happens then? Prambanan Kingdom attacked by land occupation and Pengging. Prambanan Kingdom will not be safe. The army is not able to attack troops Pengging. Finally, a kingdom dominated by Pengging Prambanan, Bandung and led by Bondowoso.

Bandung Bondowoso like a man who ruled with tyrannical. "Anyone who does not obey the order, will get a heavy punishment", said the people in Bandung Bondowoso. Bondowoso Bandung is a magic genie and have troops. Not how long in power, like the Bandung Bondowoso gestures Loro Jonggrang, daughter of King Prambanan is pretty sweet. "Beautiful girls really that. I want him to be my consort," said Bandung Bondowoso hearts.

Next day, near Bondowoso Roro Jonggrang. "You wrap, Shall you be my empress?", Bandung Bondowoso to Ask Roro Jonggrang. Roro Jonggrang startled, to hear questions Bondowoso. "Men's cheek this once, with not immediately know I want to be her consort," said Loro Jongrang in the heart. "What should I do?". Roro Jonggrang into confusion. If he refused, they will make a big Bandung Bondowoso angry and dangerous to his family and the people of Prambanan. To say yes, but also may not, as Loro Jonggrang really do not like the Bandung Bondowoso.

"How, Roro Jonggrang?" wedged Bondowoso. Roro Jonggrang eventually get the idea. "I am willing to be his wife's master, but no condition," said. "What condition? Want to abundant wealth, or a magnificent palace?". "Not that, my lord, said Roro Jonggrang. I have made temples, the number should be 1000 temples." Temple in 1000? "Bondowoso screaming." Yes, and the temple is to be completed in time for the night. "Bandung Jonggrang Roro Bondowoso stare, lips vibrate holding anger. Since then Bandung Bondowoso thinking how to make 1000 temples. Finally he said to the penasehatnya. "I believe my master is created with the help of temples Jin!", said the advisers. "Yes, nature is also true for you, prepare the equipment that I need "

After the equipment at the ready. Bandung Bondowoso standing in front of the altar stone. Both wide-arm dibentang wide. "Jinn troops, help me!" teriaknya with a jarring sound. Not long after, the sky became dark. Wind roar. Right then, troops have overrun jin Bondowoso Bandung. "What should we do Lord?", A goblin leader. "Help me build a thousand temples," Bandung Bondowoso fate. The genie immediately move to it here, perform each task. In a short period of time in which the temple is almost reached a thousand pieces.

Meanwhile, the quiet Roro Jonggrang observe from afar. He was anxious, to know Bondowoso troops assisted by the jinn. "Wah, how do this?", Said Roro Jonggrang in the heart. He was looking for understanding. The lady-in-waiting disuruhnya kingdom was assigned to gather and collect straw. "Quick burn all the straw!" Roro Jonggrang command. Some other lady-in-waiting mortar pestle. Dung ... dung ... dung! Red tinge to the sky with a jet sound accompanied the bustle, so similar like the morning dawn.

Troops jin think dawn is dawn. "Wow, the sun will rise!" invoke jinn. "We have to go immediately before our bodies were the sun," speed demon the other. The genie is trickle leave that place. Bandung Bondowoso was astonished to see panic troops jinn.

The same morning, Bandung Bondowoso Roro Jonggrang to invite the temple. "The temple which you have already established". Roro Jonggrang immediately calculate the number of the temple. In fact the number is only 999 pieces!. "The amount is less than one!" Loro Jonggrang exciting. "That means that masters have failed to meet the requirements that I ask." Bandung Bondowoso shortfall surprised to know that. He became very angry. "There may be a word Bondowoso ...", while the sharp stare Jonggrang Roro. "Then you are complete!" he said while driving on the fingers Roro Jonggrang. Wonderful! Roro Jonggrang immediately changed into a stone statue. To this temple-temple is still there, and located in the area of Prambanan, Central Java and called Roro Jonggrang temple.

Versi Indonesia :

Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. "Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.

Esok harinya, Bondowoso mendekati Roro Jonggrang. "Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang. Roro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. "Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro Jongrang dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Roro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.

"Bagaimana, Roro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Roro Jonggrang mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?". "Bukan itu, tuanku, kata Roro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?" teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam." Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. "Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!"

Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.

Sementara itu, diam-diam Roro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. "Wah, bagaimana ini?", ujar Roro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. "Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Roro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.

Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.

Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Roro Jonggrang ke tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Roro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan". Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...", kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Roro Jonggrang. "Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada Roro Jonggrang. Ajaib! Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Roro Jonggrang.

read more “Fairytale of Roro Jongrang”

Legend of Telaga Warna




Antiquity have a kingdom in West Java called Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan is the kingdom prosperous and peaceful. People calm and prosperous life as led by the wise king. Kutatanggeuhan king named Prabu Suwartalaya and named the Queen consort of Purbamanah. Unfortunately Prabu and Queen of descent was not so that they always feel lonely. People are very concerned at this, because who will replace Ratu Prabu and later?

Finally, the King decided to bersemedi. He went to the mountain and found a cave. Therein bersemedi him, pray to God that was descent. After many days of Prabu Suwartalaya pray, one day suddenly heard the sound magical.
"Is it true that you want the seed of Prabu Suwartalaya?" Said the voice is magical.
"Yes! I wanted to have children! "Prabu's Suwartalaya.
"Okay! Mu akan terkabul prayer. Now, return! "Said the unseen voice.

Then Prabu Suwartalaya any home with joy. Correct only a few weeks later, the Queen also contain. All rejoice. There are nine months later when the Queen delivered a beautiful daughter. He was given the name Putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya hold a gala party to celebrate the birth of their daughter. Gilang daughter Rukmini was a daughter of the people favored Kutatanggeuhan.

Several years have passed, Gilang Rukmini daughter grow into a beautiful sweet girl. My daughter Rukmini Gilang very friendly and does not behave well, it may be because girls are very friendly to Prabu and Queen. Only one known child. Whatever they give the girls ask. If it is not my daughter will be very angry and abusive acts. But people still love him. They hope one day my daughter will change behavior accordingly.

A week longer Gilang Rukmini akan daughters aged seven years. Prabu Suwartalaya akan feast in the palace. All people can come and give prayer for Gilang daughter Rukmini. People come together and plan a special gift for their daughter favored. Finally it was agreed that they will give away a necklace which is very beautiful. Necklace is made of gold with the best and many gem-stones of divers colors. So people with a voluntary set aside money for them and to collect the cost of making the gift. They call the best goldsmith in the kingdom to do so.

Finally, the awaited day-waiting also come. People throng the palace to come to a page where my daughter's birthday party Gilang Rukmini held. In front of the palace is a stand of majestic stage. People yell when sorai-Prabu and Queen of a stage. Moreover, when the daughter Rukmini Gilang out of the palace and wave hands. People are very happy to see that beautiful sweet daughter. Party was held with the gala.

Now was time the people present their special gift. They provide a gift box that Gilang daughter Rukmini. Prabu Suwartalaya open the box and remove the necklace pied a very beautiful and give it to Gilang daughter Rukmini. Gilang daughter Rukmini looked necklace with brow wrinkled. Prabu look Suwartalaya daughter, "Come on bud, wearing the necklace! That is the mark of the people you love. Do not make them disappointed! "
"Yes my daughter. Necklace is very beautiful. Come on fool! Let the people happy, "said the Queen Purbamanah.
"Good? This necklace crook. Color Economics, plebeian! I did not want to wear! "Screaming Gilang daughter Rukmini.
He is one necklace to the floor until destroyed. Prabu Suwartalaya, Queen Purbamanah and people can only be stupefied Kutatanggeuhan witnessed the incident. Then the Queen weeping Purbamanah broken. He was very sad to see daughter's behavior. Finally, all eyes are out of water, until the palace was wet by watering them. They continue to cry their eyes to water flooding the palace, and suddenly it's out in the ground water that is swift, the longer the more. Until eventually submerged Kutatanggeuhan kingdom and a beautiful lake that is displayed.

Now the lake that we can still meet in the Puncak area, West Java. The lake is called Telaga Warna, as if the sunny days, water will reflect sunlight to appear colorful. He said, it is the reflection of the color comes from the necklace Gilang daughter Rukmini.

Versi Indonesia :

Jaman dahulu ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Sayang Prabu dan Ratu belum dikaruniai keturunan sehingga mereka selalu merasa kesepian. Rakyat pun sangat mengkhawatirkan keadaan ini, karena siapa yang akan menggantikan Prabu dan Ratu kelak?

Akhirnya Raja memutuskan untuk bersemedi. Dia pergi ke gunung dan menemukan sebuah gua. Disanalah dia bersemedi, berdoa kepada Tuhan supaya dikaruniai keturunan. Setelah berhari-hari Prabu Suwartalaya berdoa, suatu hari tiba-tiba terdengar suara gaib.
“Benarkah kau menginginkan keturunan Prabu Suwartalaya?” kata suara gaib tersebut.
“Ya! Saya ingin sekali memiliki anak!” jawab Prabu Suwartalaya.
“Baiklah! Doamu akan terkabul. Sekarang pulanglah!” kata suara gaib.

Maka Prabu Suwartalaya pun pulang dengan gembira. Benar saja beberapa minggu kemudian, Ratu pun mengandung. Semua bersuka cita. Terlebih lagi ketika sembilan bulan kemudian Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Dia diberi nama Putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya mengadakan pesta yang meriah untuk merayakan kelahiran putri mereka. Putri Gilang Rukmini pun menjadi putri kesayangan rakyat Kutatanggeuhan.

Beberapa tahun telah berlalu, putri Gilang Rukmini tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Sayang putri Gilang Rukmini sangat manja dan berperangai tidak baik, mungkin karena Prabu dan Ratu sangat memanjakannya. Maklumlah anak semata wayang. Apapun yang diminta oleh putri pasti segera dituruti. Jika tidak putri akan sangat marah dan bertindak kasar. Namun rakyat tetap mencintainya. Mereka berharap suatu hari perangai putri akan berubah dengan sendirinya.

Seminggu lagi putri Gilang Rukmini akan berusia tujuh belas tahun. Prabu Suwartalaya akan mengadakan pesta syukuran di istana. Semua rakyat boleh datang dan memberikan doa untuk putri Gilang Rukmini. Rakyat berkumpul dan merencanakan hadiah istimewa untuk putri kesayangan mereka. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan menghadiahkan sebuah kalung yang sangat indah. Kalung itu terbuat dari emas terbaik dan ditaburi batu-batu permata yang beraneka warna. Maka rakyat dengan sukarela menyisihkan uang mereka dan mengumpulkannya untuk biaya pembuatan hadiah tersebut. Mereka memanggil pandai emas terbaik di kerajaan untuk membuatnya.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Rakyat berduyun-duyun datang ke halaman istana tempat pesta ulang tahun putri Gilang Rukmini diadakan. Di depan istana sudah berdiri sebuah panggung yang megah. Rakyat bersorak-sorai saat Prabu dan Ratu menaiki panggung. Apalagi ketika akhirnya putri Gilang Rukmini keluar dari istana dan melambaikan tangannya. Rakyat sangat gembira melihat putri yang cantik jelita. Pesta pun berlangsung dengan meriah.

Kini tiba saatnya rakyat mempersembahkan hadiah istimewa mereka. Mereka memberikan kotak berisi hadiah itu kepada putri Gilang Rukmini. Prabu Suwartalaya membuka kotak tersebut dan mengeluarkan kalung beraneka warna yang sangat indah dan memberikannya kepada putri Gilang Rukmini. putri Gilang Rukmini memandang kalung itu dengan kening berkerut. Prabu Suwartalaya memandang putrinya, “Ayo nak, kenakan kalung itu! Itu adalah tanda cinta rakyat kepadamu. Jangan kecewakan mereka nak!”
“Iya putriku. Kalung itu sangat indah bukan. Ayo kenakan! Biar rakyat senang,” kata Ratu Purbamanah.
“Bagus apanya? Kalung ini jelek sekali. Warnanya norak, kampungan! Aku tidak mau memakainya!” teriak putri Gilang Rukmini.
Dia membanting kalung itu ke lantai hingga hancur. Prabu Suwartalaya, Ratu Purbamanah dan rakyat Kutatanggeuhan hanya bisa tertegun menyaksikan kejadian itu. Lalu tangis Ratu Purbamanah pecah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya. Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.

Kini danau itu masih bisa kita temui di daerah Puncak, Jawa Barat. Danau itu dinamakan Telaga Warna, karena jika hari cerah, airnya akan memantulkan cahaya matahari hingga tampak berwarna-warni. Katanya, itu adalah pantulan warna yang berasal dari kalung putri Gilang Rukmini.
read more “Legend of Telaga Warna”

Friday, June 05, 2009



Kyai Pasir dan Nyai Pasir adalah pasangan suami isteri yang hidup di hutan gunung Lawu. Mereka berteduh di sebuah rumah (pondok) di hutan lereng gunung Lawu sebelah timur. Pondok itu dibuat dari kayu hutan dan beratapkan dedaunan. Dengan pondok yang sangat sederhana ini keduanya sudah merasa sangat aman dan tidak takut akan bahaya yang menimpanya, seperti gangguan binatang buas dan sebagainya. Lebih-lebih mereka telah lama hidup di hutan tersebut sehingga paham terhadap situasi lingkungan sekitar dan pasti dapat mengatasi segala gangguan yang mungkin akan menimpa dirinya.

Pada suatu hari pergilah Kyai Pasir ke hutan dengan maksud bertanam sesuatu di ladangnya, sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari. Oleh karena ladang yang akan ditanami banyak pohon-phon besar, Kyai Pasir terlebih dahulu menebang beberapa pohon besar itu satu demi satu.

Tiba-tiba Kyai Pasir terkejut karena mengetahui sebutir telur ayam terletak di bawah salah sebuah pohon yang hendak ditebangnya. Diamat-amatinya telur itu sejenak sambil bertanya di dalam hatinya, telur apa gerangan yang ditemukan itu. Padahal di sekitarnya tidak tampak binatang unggas seekorpun yang biasa bertelur. Tidak berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera pulang membwa telur itu dan diberikan kepada isterinya.

Kyai Pasir menceritakan ke Nyai Pasir awal pertamanya menemukan telur itu, sampai dia bawa pulang.

Akhirnya kedua suami isteri itu sepakat telur temuan itu direbus. Setelah masak, separo telur masak tadi oleh Nyai Pasir diberikan ke suaminya. Dimakannya telur itu oleh Kyai Pasir dengan lahapnya. Kemudian Kemudian Kyai Pasir berangkat lagi keladang untuk meneruskan pekerjaan menebang pohon dan bertanam.

Dalam perjalanan kembali ke ladang, Kyai Pasir masih merasakan nikmat telur yang baru saja dimakannya. Namun setelah tiba di ladang, badannya terasa panas, kaku serta sakit sekali. Mata berkunang-kunang, keringat dingin keluar membasahi seluruh tubuhnya. Derita ini datangnya secara tiba-tiba, sehingga Kyai Pasir tidak mampu menahan sakit itu dan akhirnya rebah ke tanah. Mereka sangat kebingungan sebab sekujur badannya kaku dan sakit bukan kepalang. Dalam keadaan yang sangat kritis ini Kyai Pasir berguling-guling di tanah, berguling kesana kemari dengan dahsyatnya. Gaib menimpa Kyai Pasir. Tiba-tiba badanya berubah wujud menjadi ular naga yang besar, bersungut, berjampang sangat menakutkan. Ular Naga itu berguling kesana kemari tanpa henti-hentinya.

Alkisah, Nyai Pasir yang tinggal di rumah dan juga makan separo dari telur yang direbus tadi, dengan tiba-tiba mengalami nasib sama sebagaimana yang dialami Kyai Pasir. Sekujur badannya menjadi sakit, kaku dan panas bukan main. Nyai Pasir menjadi kebingungan, lari kesana kemari, tidak karuan apa yang dilakukan.

Karena derita yang disandang ini akhirnya Nyai Pasir lari ke ladang bermaksud menemui suaminya untuk minta pertolongan. Tetapi apa yang dijumpai. Bukannya Kyai Pasir, melainkan seekor ular naga yang besar sekali dan menakutkan. Melihat ular naga yang besar itu Nyai Pasir terkejut dan takut bukan kepalang. Tetapi karena sakit yang disandangnya semakin parah, Nyai Pasir tidak mampu lagi bertahan dan rebahlah ke tanah. Nyai Pasir mangalami nasib gaib yang sama seperti yang dialami suaminya. Demikian ia rebah ke tanah, badannya berubah wujud menjadi seekor ular naga yang besar, bersungut, berjampang, giginya panjang dan runcing sangat mengerikan. Kedua naga itu akhirnya berguling-guling kesana kemari, bergeliat-geliat di tanah ladang itu, menyebabkan tanah tempat kedua naga berguling-guling itu menjadi berserakan dan bercekung-cekung seperti dikeduk-keduk. Cekungan itu makin lama makin luas dan dalam, sementara kedua naga besar itu juga semakin dahsyat pula berguling-guling dan tiba-tiba dari dalam cekungan tanah yang dalam serta luas itu menyembur air yang besar memancar kemana-mana. Dalam waktu sekejap saja, cekungan itu sudah penuh dengan air dan ladang Kyai Pasir berubah wujud mejadi kolam besar yang disebut Telaga. Telaga ini oleh masyarakat setempat terdahulu dinamakan Telaga Pasir, karena telaga ini terwujud disebabakan oleh ulah Kyai Pasir dan Nyai Pasir.
read more “ ”

Little Ida’s Flowers PDF



My poor flowers are quite dead,” said little Ida, “they were so pretty yesterday evening, and now all the leaves are hanging down quite withered. What do they do that for,” she asked, of the student who sat on the sofa; she liked him very much, he could tell the most amusing stories, and cut out the prettiest pictures; hearts, and ladies dancing, castles with doors that opened, as well as flowers; he was a delightful student. “Why do the flowers look so faded to-day?” she asked again, and pointed to her nosegay, which was quite withered.

“Don’t you know what is the matter with them?” said the student. “The flowers were at a ball last night, and therefore, it is no wonder they hang their heads.”

“But flowers cannot dance?” cried little Ida.

“Yes indeed, they can,” replied the student. “When it grows dark, and everybody is asleep, they jump about quite merrily. They have a ball almost every night.”

“Can children go to these balls?”

“Yes,” said the student, “little daisies and lilies of the valley.”

“Where do the beautiful flowers dance?” asked little Ida.

“Have you not often seen the large castle outside the gates of the town, where the king lives in summer, and where the beautiful garden is full of flowers? And have you not fed the swans with bread when they swam towards you? Well, the flowers have capital balls there, believe me.”

“I was in the garden out there yesterday with my mother,” said Ida, “but all the leaves were off the trees, and there was not a single flower left. Where are they? I used to see so many in the summer.”

“They are in the castle,” replied the student. “You must know that as soon as the king and all the court are gone into the town, the flowers run out of the garden into the castle, and you should see how merry they are. The two most beautiful roses seat themselves on the throne, and are called the king and queen, then all the red cockscombs range themselves on each side, and bow, these are the lords-in-waiting. After that the pretty flowers come in, and there is a grand ball. The blue violets represent little naval cadets, and dance with hyacinths and crocuses which they call young ladies. The tulips and tiger-lilies are the old ladies who sit and watch the dancing, so that everything may be conducted with order and propriety.”

“But,” said little Ida, “is there no one there to hurt the flowers for dancing in the king’s castle?”

“No one knows anything about it,” said the student. “The old steward of the castle, who has to watch there at night, sometimes comes in; but he carries a great bunch of keys, and as soon as the flowers hear the keys rattle, they run and hide themselves behind the long curtains, and stand quite still, just peeping their heads out. Then the old steward says, ‘I smell flowers here,’ but he cannot see them.”

“Oh how capital,” said little Ida, clapping her hands. “Should I be able to see these flowers?”

“Yes,” said the student, “mind you think of it the next time you go out, no doubt you will see them, if you peep through the window. I did so to-day, and I saw a long yellow lily lying stretched out on the sofa. She was a court lady.”

“Can the flowers from the Botanical Gardens go to these balls?” asked Ida. “It is such a distance!”

“Oh yes,” said the student “whenever they like, for they can fly. Have you not seen those beautiful red, white. and yellow butterflies, that look like flowers? They were flowers once. They have flown off their stalks into the air, and flap their leaves as if they were little wings to make them fly. Then, if they behave well, they obtain permission to fly about during the day, instead of being obliged to sit still on their stems at home, and so in time their leaves become real wings. It may be, however, that the flowers in the Botanical Gardens have never been to the king’s palace, and, therefore, they know nothing of the merry doings at night, which take place there. I will tell you what to do, and the botanical professor, who lives close by here, will be so surprised. You know him very well, do you not? Well, next time you go into his garden, you must tell one of the flowers that there is going to be a grand ball at the castle, then that flower will tell all the others, and they will fly away to the castle as soon as possible. And when the professor walks into his garden, there will not be a single flower left. How he will wonder what has become of them!”

“But how can one flower tell another? Flowers cannot speak?”

“No, certainly not,” replied the student; “but they can make signs. Have you not often seen that when the wind blows they nod at one another, and rustle all their green leaves?”

“Can the professor understand the signs?” asked Ida.

“Yes, to be sure he can. He went one morning into his garden, and saw a stinging nettle making signs with its leaves to a beautiful red carnation. It was saying, ‘You are so pretty, I like you very much.’ But the professor did not approve of such nonsense, so he clapped his hands on the nettle to stop it. Then the leaves, which are its fingers, stung him so sharply that he has never ventured to touch a nettle since.”

“Oh how funny!” said Ida, and she laughed.

“How can anyone put such notions into a child’s head?” said a tiresome lawyer, who had come to pay a visit, and sat on the sofa. He did not like the student, and would grumble when he saw him cutting out droll or amusing pictures. Sometimes it would be a man hanging on a gibbet and holding a heart in his hand as if he had been stealing hearts. Sometimes it was an old witch riding through the air on a broom and carrying her husband on her nose. But the lawyer did not like such jokes, and he would say as he had just said, “How can anyone put such nonsense into a child’s head! what absurd fancies there are!”

But to little Ida, all these stories which the student told her about the flowers, seemed very droll, and she thought over them a great deal. The flowers did hang their heads, because they had been dancing all night, and were very tired, and most likely they were ill. Then she took them into the room where a number of toys lay on a pretty little table, and the whole of the table drawer besides was full of beautiful things. Her doll Sophy lay in the doll’s bed asleep, and little Ida said to her, “You must really get up Sophy, and be content to lie in the drawer to-night; the poor flowers are ill, and they must lie in your bed, then perhaps they will get well again.” So she took the doll out, who looked quite cross, and said not a single word, for she was angry at being turned out of her bed. Ida placed the flowers in the doll’s bed, and drew the quilt over them. Then she told them to lie quite still and be good, while she made some tea for them, so that they might be quite well and able to get up the next morning. And she drew the curtains close round the little bed, so that the sun might not shine in their eyes. During the whole evening she could not help thinking of what the student had told her. And before she went to bed herself, she was obliged to peep behind the curtains into the garden where all her mother’s beautiful flowers grew, hyacinths and tulips, and many others. Then she whispered to them quite softly, “I know you are going to a ball to-night.” But the flowers appeared as if they did not understand, and not a leaf moved; still Ida felt quite sure she knew all about it. She lay awake a long time after she was in bed, thinking how pretty it must be to see all the beautiful flowers dancing in the king’s garden. “I wonder if my flowers have really been there,” she said to herself, and then she fell asleep. In the night she awoke; she had been dreaming of the flowers and of the student, as well as of the tiresome lawyer who found fault with him. It was quite still in Ida’s bedroom; the night-lamp burnt on the table, and her father and mother were asleep. “I wonder if my flowers are still lying in Sophy’s bed,” she thought to herself; “how much I should like to know.” She raised herself a little, and glanced at the door of the room where all her flowers and playthings lay; it was partly open, and as she listened, it seemed as if some one in the room was playing the piano, but softly and more prettily than she had ever before heard it. “Now all the flowers are certainly dancing in there,” she thought, “oh how much I should like to see them,” but she did not dare move for fear of disturbing her father and mother. “If they would only come in here,” she thought; but they did not come, and the music continued to play so beautifully, and was so pretty, that she could resist no longer. She crept out of her little bed, went softly to the door and looked into the room. Oh what a splendid sight there was to be sure! There was no night-lamp burning, but the room appeared quite light, for the moon shone through the window upon the floor, and made it almost like day. All the hyacinths and tulips stood in two long rows down the room, not a single flower remained in the window, and the flower-pots were all empty. The flowers were dancing gracefully on the floor, making turns and holding each other by their long green leaves as they swung round. At the piano sat a large yellow lily which little Ida was sure she had seen in the summer, for she remembered the student saying she was very much like Miss Lina, one of Ida’s friends. They all laughed at him then, but now it seemed to little Ida as if the tall, yellow flower was really like the young lady. She had just the same manners while playing, bending her long yellow face from side to side, and nodding in time to the beautiful music. Then she saw a large purple crocus jump into the middle of the table where the playthings stood, go up to the doll’s bedstead and draw back the curtains; there lay the sick flowers, but they got up directly, and nodded to the others as a sign that they wished to dance with them. The old rough doll, with the broken mouth, stood up and bowed to the pretty flowers. They did not look ill at all now, but jumped about and were very merry, yet none of them noticed little Ida. Presently it seemed as if something fell from the table. Ida looked that way, and saw a slight carnival rod jumping down among the flowers as if it belonged to them; it was, however, very smooth and neat, and a little wax doll with a broad brimmed hat on her head, like the one worn by the lawyer, sat upon it. The carnival rod hopped about among the flowers on its three red stilted feet, and stamped quite loud when it danced the Mazurka; the flowers could not perform this dance, they were too light to stamp in that manner. All at once the wax doll which rode on the carnival rod seemed to grow larger and taller, and it turned round and said to the paper flowers, “How can you put such things in a child’s head? they are all foolish fancies;” and then the doll was exactly like the lawyer with the broad brimmed hat, and looked as yellow and as cross as he did; but the paper dolls struck him on his thin legs, and he shrunk up again and became quite a little wax doll. This was very amusing, and Ida could not help laughing. The carnival rod went on dancing, and the lawyer was obliged to dance also. It was no use, he might make himself great and tall, or remain a little wax doll with a large black hat; still he must dance. Then at last the other flowers interceded for him, especially those who had lain in the doll’s bed, and the carnival rod gave up his dancing. At the same moment a loud knocking was heard in the drawer, where Ida’s doll Sophy lay with many other toys. Then the rough doll ran to the end of the table, laid himself flat down upon it, and began to pull the drawer out a little way.

Then Sophy raised himself, and looked round quite astonished, “There must be a ball here to-night,” said Sophy. “Why did not somebody tell me?”

“Will you dance with me?” said the rough doll.

“You are the right sort to dance with, certainly,” said she, turning her back upon him.

Then she seated herself on the edge of the drawer, and thought that perhaps one of the flowers would ask her to dance; but none of them came. Then she coughed, “Hem, hem, a-hem;” but for all that not one came. The shabby doll now danced quite alone, and not very badly, after all. As none of the flowers seemed to notice Sophy, she let herself down from the drawer to the floor, so as to make a very great noise. All the flowers came round her directly, and asked if she had hurt herself, especially those who had lain in her bed. But she was not hurt at all, and Ida’s flowers thanked her for the use of the nice bed, and were very kind to her. They led her into the middle of the room, where the moon shone, and danced with her, while all the other flowers formed a circle round them. Then Sophy was very happy, and said they might keep her bed; she did not mind lying in the drawer at all. But the flowers thanked her very much, and said,—

“We cannot live long. To-morrow morning we shall be quite dead; and you must tell little Ida to bury us in the garden, near to the grave of the canary; then, in the summer we shall wake up and be more beautiful than ever.”

“No, you must not die,” said Sophy, as she kissed the flowers.

Then the door of the room opened, and a number of beautiful flowers danced in. Ida could not imagine where they could come from, unless they were the flowers from the king’s garden. First came two lovely roses, with little golden crowns on their heads; these were the king and queen. Beautiful stocks and carnations followed, bowing to every one present. They had also music with them. Large poppies and peonies had pea-shells for instruments, and blew into them till they were quite red in the face. The bunches of blue hyacinths and the little white snowdrops jingled their bell-like flowers, as if they were real bells. Then came many more flowers: blue violets, purple heart’s-ease, daisies, and lilies of the valley, and they all danced together, and kissed each other. It was very beautiful to behold.

At last the flowers wished each other good-night. Then little Ida crept back into her bed again, and dreamt of all she had seen. When she arose the next morning, she went quickly to the little table, to see if the flowers were still there. She drew aside the curtains of the little bed. There they all lay, but quite faded; much more so than the day before. Sophy was lying in the drawer where Ida had placed her; but she looked very sleepy.

“Do you remember what the flowers told you to say to me?” said little Ida. But Sophy looked quite stupid, and said not a single word.

“You are not kind at all,” said Ida; “and yet they all danced with you.”

Then she took a little paper box, on which were painted beautiful birds, and laid the dead flowers in it.

“This shall be your pretty coffin,” she said; “and by and by, when my cousins come to visit me, they shall help me to bury you out in the garden; so that next summer you may grow up again more beautiful than ever.”

Her cousins were two good-tempered boys, whose names were James and Adolphus. Their father had given them each a bow and arrow, and they had brought them to show Ida. She told them about the poor flowers which were dead; and as soon as they obtained permission, they went with her to bury them. The two boys walked first, with their crossbows on their shoulders, and little Ida followed, carrying the pretty box containing the dead flowers. They dug a little grave in the garden. Ida kissed her flowers and then laid them, with the box, in the earth. James and Adolphus then fired their crossbows over the grave, as they had neither guns nor cannons.
read more “Little Ida’s Flowers PDF”

Thursday, June 04, 2009

Legenda Bunga Kemuning



Pada suatu masa, hiduplah sepuluh orang putri raja yang sangat cantik-cantik. Ibu mereka sudah lama meninggal dan ayah mereka, sang raja, begitu sibuk dengan urusan kerajaannya sehingga mereka hampir tidak punya waktu untuk berkumpul bersama. Akibatnya putri-putri ini menjadi nakal dan manja, kecuali sang putri bungsu, putri Kuning. Ya, mereka memang diberi nama dengan nama warna. Ada putri Jambon, putri Hijau, putri merah merona, putri nila dan lain-lain. Barangkali dulu sang ibu berharap anak-anaknya akan memberi banyak warna di kehidupan ini. Sayang, sang ibu keburu meninggal sehingga tidak sempat mendidik mereka sengan baik.

Kesepuluh putri ini selalu memakai pakaian dan perhiasan yang sewarna dengan nama mereka. Putri Merah selalu memakai warna merah, demikian juga putri-putri lainnya.

Sementara kakak-kakaknyabermalas-malasan dan membuat keonaran, putri Kuning menghabiskan waktu dengan membantu inang-inangnya, atau membaca buku, dan atua merawat kebun bunga kesayangannya. Kakak-kakaknya sering mengejeknya.
“Heh lihat tuh si Kuning! Sepertinya dia pantas ya jadi pelayan. Mana ada seorang putri yang belepotan lumpur begitu,” kata putri Jambon yang disambut gelak tawa yang lain.
Putri Kuning tidak pernah mengindahkan ejekan mereka. “Biarlah, lama-lama juga capai sendiri,” pikir putri Kuning.

Suatu hari raja harus pergi ke negeri tetangga di sebrang lautan. Dia sengaja mengumpulkan putri-putrinya malam itu untuk berpamitan.
“Nak, ayah akan pergi jauh. Mungkin sebulan lagi ayah baru kembali. Kalian mau ayah belikan apa?” tanyanya.
“Oh, aku mau kalung dan gelang baru ayah! Jangan lupa liontinnya harus rubi yang besar ya!” kata putri Merah merona.
“Aku mau kain sutera yang banyak ayah,” kata putri Jingga.
Semua putri berebut menyebutkan permintaannya, hanya putri Kuning saja yang tidak berdiam diri dan hanya mendoakan supaya ayahnya pulang dengan selamat.

Sepeninggal sang raja, kakak-kakak putri kuning semakin malas saja. Kegiatan mereka sehari-hari hanya bersolek, makan dan bermain. Para dayang dibuatnya sibuk melayani mereka.

Sementara itu putri Kuning menghabiskan waktunya dengan merawat kebun bunga istana yang merupakan tempat favorit ayahnya. Memang saking sibuknya para pelayan istana meladeni kemauan kakak-kakaknya, kebun istana menjadi terbengkalai.
“Wah kita punya pelayan baru tuh!” teriak putri Nila sambil menunjuk putri Kuning.
“Hei pelayan, nanti kalau sudah beres, sekalian sapuin kamar saya ya hahahaha…” teriak putri hijau.
Kesembilan kakaknya tertawa mengejek hingga perut mereka sakit.
“Ah, aku bosan! Lebih asyik kayaknya kalau kita jalan-jalan di luar istana daripada nonton orang sok baik itu!” ajak putri Nila yang langsung disetujui yang lainnya.
Mereka pun berlalu meninggalkan putri Kuning yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka. Akhirnya sebulan kemudian ayah mereka pulang membawa oleh-oleh yang mereka tunggu. Mereka sibuk berebut mencari pesanan mereka, dan hanya putri kuning yang ingat mengucapkanselamat datang dan memeluk ayahnya. “Anakku, maafkan ayahmu ini nak! Aku tidak bisa menemukan perhiasan yang berwarna kuning untukmu. Hanya kalung permata hijau ini yang ayah belikan untukmmu,” kata raja. “Ah sudahlah ayah. Keselamatan ayah jauh lebih penting daripada oleh-oleh. Lagipula kalung ini juga bagus dan serasi dengan baju kuningku,” hibur putri Kuning sambil mengecup kening ayahnya dengan sayang.

Esoknya saat kesepuluh putri ini berkumpul. Putri hijau tiba-tiba menyadari bahwa putri Kuning memakai kalung berwarna hijau.
“Hei, kamu kok pakai kalung warna hijau? Seharusnya kalung itu milikku karena namaku putri Hijau,” katanya.
“Maaf kak, kalung ini ayah sendiri yang berikan, jadi ini kalungku!” ujar putri Kuning.

Putri Hijau tidak senang dan merasa berhak memiliki kalung hijau itu, maka dia menghasut saudaranya yang lain.
“Si Kuning itu sudah keterlaluan, dia pasti sudah memaksa ayah memberikan kalung hijau itu untuknya. Padahal kalau ayah mau memberikan hadiah padanya, pasti kalungnya berwarna kuning dong!” katanya.
“Hmm dia memang semakin menyebalkan akhir-akhir ini, lihat saja tingkahnya yang sok rajin, pasti dia Cuma ingin mengesankan ayah saja, biar lebih disayang,” kata putri Jambon.
“Ayo kita kasih dia pelajaran, biar kapok,” kata putri Jingga.
“Ayo…!” kata yang lain.

Diam-diam mereka menangkap putri Kuning saat berada di kebun istana dan menyiksanya. Tanpa sengaja salah seorang putri memukul kepala putri Kuning dengan keras sehingga dia tewas seketika. Mereka semua bingung dan takut. Akhirnya putri Jambon memutuskan untuk mengubur putri Kuning sebelum kematiannya diketahui orang lain. Putri Kuning pun dikuburkan di tengah kebun bunga istana. Kalung hijaunya pun ikut dikuburkan karena ayahnya pasti curiga jika putri Hijau memakainya.

Raja heran, karena seharian ini dia tidak melihat putri Kuning yang biasanya senantiasa menemaninya jika ia telah selesai dengan tugas kerajaannya. Raja sudah mencari ke kamarnya, ke kebun istana, ke danau, tapi putri Kuning tetap tidak kelihatan. Dia menyuruh para pelayan untuk mencarinya. Namun berbulan-bulan putri Kuning tidak diketemukan. Sementara kakak-kakaknya mengaku tidak tahu menahu soal hilangnya adik mereka. Raja sangat bersedih kehilangan putri kesayangannya.

Suatu hari saat raja termenung di kebun istana, dilihatnya ada tanaman baru di tengah kebunnya.
“Oh tanaman apa ini? Alangkah indahnya. Daunnya bulat dan hijau seperti kalung putriku. Bunganya juga kekuningan dan sangat wangi. Bunga ini mengingatkanku pada putriku yang hilang. Baiklah aku akan menamai bunga ini bunga Kemuning,” kata raja.

Bunga ini tetap tumbuh di kebun istana dan menemani sang raja hingga akhir hayatnya. Bunganya yang wangi sering dipakai untuk mengharumkan rambut. Batangnya bisa dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah dan kulitnya digunakan untuk membuat bedak. Seperti halnya putri Kuning, bunga kemuning juga selalu memberikan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.
read more “Legenda Bunga Kemuning”

Wednesday, June 03, 2009

Asal Mula Selat Bali



Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran.

Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau memberi sedikit hartanya.”

Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.

Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.

Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, “Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma.”

Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.

Mendengar kematian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.

“Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini,” katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.
read more “Asal Mula Selat Bali”

Tuesday, June 02, 2009

Anteh Sang Penunggu Bulan



Dongeng dari Jawa Barat.

Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana. Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni.

“Kau jangan memanggilku Gusti putri kalau sedang berdua denganku,” kata putri. “Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak perduli satatusmu yang hanya seorang dayang. Ingat sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau lupa lagi kamu akan aku hukum!”
“Baik Gust…..eh kakak!” jawab Nyai Anteh.
“Anteh, sebenarnya aku iri padamu,” kata putri.
“Ah, iri kenapa kak. Saya tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain iri,” kata Anteh heran.
“Apa kau tidak tahu bahwa kamu lebih cantik dariku. Jika kamu seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu,” ujar putri sambil tersenyum.
“Ha ha ha.. kakak bisa saja. Mana bisa wajah jelek seperti ini dibilang cantik. Yang cantik tuh kak Endah, kemarin saja waktu pangeran dari kerajaan sebrang datang, dia sampai terpesona melihat kakak. Iya kan kak???” jawab Anteh dengan semangat.
“Ah kamu bisa saja. Itu karena waktu itu kau memilihkan baju yang cocok untukku. O ya kau buat di penjahit mana baju itu?” tanya putri.
“Eeee…itu…itu…saya yang jahit sendiri kak.” jawab Anteh.
“Benarkah? Wah aku tidak menyangka kau pandai menjahit. Kalau begitu lain kali kau harus membuatkan baju untukku lagi ya. Hmmmm…mungkin baju pengantinku?” seru putri.
“Aduh mana berani saya membuat baju untuk pernikahan kakak. Kalau jelek, saya pasti akan dimarahi rakyat,” kata Anteh ketakutan.
“Tidak akan gagal! Kemarin baju pesta saja bisa…jadi baju pengantin pun pasti bisa,” kata putri tegas.

Suatu malam ratu memanggil putri Endahwarni dan Nyai Anteh ke kamarnya.
“Endah putriku, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan,” kata ratu.
“Ya ibu,” jawab putri.
“Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan,” ujar ratu. “Sesuai ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu.”
“Maksud ibu, Endah harus segera menikah?” tanya putri.
“ya nak, dan ibu juga ayahmu sudah berunding dan sepakat bahwa calon pendamping yang cocok untukmu adalah Anantakusuma, anak adipati dari kadipaten wetan. Dia pemuda yang baik dan terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan bahagia bersamanya,” kata ratu. “Dan kau Anteh, tugasmu adalah menjaga dan menyediakan keperluan kakakmu supaya tidak terjadi apa-apa padanya.”
“Baik gusti ratu,” jawab Anteh.

Malam itu putri Endahwarni meminta Nyai Anteh untuk menemaninya.
“Aku takut sekali Anteh,” kata putri dengan sedih. “Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?”
“Kakak jangan berpikiran buruk dulu,” hibur Anteh. “Saya yakin gusti Raja dan Ratu tidak akan sembarangan memilih jodoh buat kakak. Dan pemuda mana yang tidak akan jatuh hati melihat kecantikan kakak. Ah sudahlah, kakak tenang dan berdoa saja. Semoga semuanya berjalan lancar.”

Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana. Dia tepesona mendengar suara yang begitu merdu. Ternyata pemuda itu adalah Anantakusuma. Dia sangat sakti, maka tembok istana yang begitu tinggi dengan mudah dilompatinya. Dia bersembunyi di balik gerumbulan bunga, dan tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik. Anantakusuma merasakan dadanya bergetar, “alangkah cantiknya dia, apakah dia putri Endahwarni calon istriku?” batinnya. Anantakusuma keluar dari persembunyiannya. Anteh terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya muncul pemuda yang tidak dikenalnya.
“Siapa tuan?” tanya Anteh.
“Aku Anantakusuma. Apakah kau…..”
Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Anteh. “Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!” kata seorang dayang.
“Ya. Saya segera datang. Maaf tuan saya harus pergi,” kata Anteh yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma. “Dia ternyata bukan Endahwarni,” pikir Anantakusuma. “Dan aku jatuh cinta padanya. Aku ingin dialah yang jadi istriku.”

Beberapa hari kemudian, di istana terlihat kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.

Tibalah saat perjamuan. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan.
“Silahkan mencicipi makanan istimewa istana ini,” kata Anteh dengan hormat.
“Terima kasih Anteh, silahkan langsung dicicipi,” kata Raja kepada para tamunya.
Anantakusuma tertegun melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gasis lain, dan gadis itu adalah Anteh. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa dan sakit hati. Timbul dendam di hatinya pada Anteh. Dia merasa Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya.

Setelah perjamuan selesai dan putri kembali ke kamarnya, Anteh menemui sang putri.
“Bagaimana kak? Kakak senang kan sudah melihat calon suami kakak? Wah ternyata dia sangat tampan ya?” kata Anteh.
Hati putri Endahwarni terasa terbakar mendengar kata-kata Anteh. Dia teringat kembali bagaimana Anantakusuma memandang Anteh dengan penuh cinta.
“Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu,” kata putri Endahwarni.
“A..apa kesalahanku kak? Kenapa kakak tiba-tiba marah begitu?” tanya Anteh kaget.
“Pokoknya aku sebal melihat mukamu!” bentak putri. “Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi…Tidak! Aku tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus pergi dari sini hari ini juga!”
“Tapi kenapa kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?” tangis Anteh.
“Ah jangan banyak tanya. Kau sudah mengkianatiku. Karena kau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu itu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu!” kata putri.
“Baiklah kak, aku akan pergi dari sini. Tapi kak, sungguh saya tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati kakak. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih saya pada Gusti Raja dan Ratu.”
Anteh beranjak pergi dari kamar putri Endahwarni menuju kamarnya lalu mulai mengemasi barang-barangnya. Kepada dayang lainnya dia berpesan untuk menjaga putri Endahwarni dengan baik.

Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar istana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Anteh belum pernah pergi kesana, tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakannya. Ketika hari sudah hampir malam, Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ketika dia sedang termenung memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya.
“Maaf nak, apakah anak bukan orang sini?” tanyanya.
“Iya paman, saya baru datang!” kata Anteh ketakutan.
“Oh maaf bukan maksudku menakutimu, tapi wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Wajahmu mirip sekali dengan kakakku Dadap,”
“Dadap? Nama ibuku juga Dadap. Apakah kakak paman bekerja di istana sebagai dayang?” tanya Anteh.
“Ya….! Apakah….kau anaknya Dadap?” tanya paman itu.
“Betul paman!” jawab Anteh.
“Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku adalah pamanmu Waru, adik ibumu,” kata paman Waru dengan mata berkaca-kaca.
“Benarkah? Oh paman akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!” kata Anteh dengan gembira.
“Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?” tanya paman Waru.
“Ceritanya panjang paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah paman. Saya tidak tahu harus kemana,” pinta Anteh.
“Tentu saja nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!” kata paman Waru.

Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya yang bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.
Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh.
“Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ni? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap, sehingga aku mengusirmu padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku…” tangis putri.
“Gusti…jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar,” kata Anteh.
“Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!” pinta putri.
“Tapi putri aku sekarang punya suami dan anak. Saya juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan,” jawab Anteh.
“Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana,” kata putri sambil tertawa. “Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!”



Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora.

Hingga suatu malam pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh.
“Anteh!” tegurnya.
Anteh terkejut. Dilihatnya pangeran Antakusuma berdiri di hadapannya.
“Pa..pangeran? kenapa pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?” tanya Anteh ketakutan.
“Aku tidak perduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh tahukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu,” kata pangeran.
“Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku,” kata Anteh sambil memeluk Candramawat.
“Aku tidak bisa… Aku tidak bisa melupakanmu! Kau harus menjadi milikku Anteh! Kemarilah biarkan aku memelukmu!” kata pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh.
Anteh mundur dengan ketakutan. “Sadarlah pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti putri.”
Namun pangeran Ananta kusuma tetap mendekati Anteh.

Anteh yang ketakutan berusaha melarikan diri. Namun pangeran Anantakusuma tetap mengejarnya.
“Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini!” doa Anteh, “Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah Hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!”
Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.

Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan, sendirian dan hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Jika rindunya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia akan menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat. Begitulah kisah Nyai Anteh sang penunggu bulan.
read more “Anteh Sang Penunggu Bulan”

Legend Of The Origins At Lipan Lake



In the district of Muara Kaman approximately 120 km upstream in the capital Tenggarong Kutai Kartanegara regency in East Kalimantan have an area that is familiar with Lake centipede. Although called Lake, the area is not a lake like Lake Jempang and Semayang. Area that is knowledgeable of the bush and shrub growth.

Old city of Muara Kaman and the surrounding sea. Marine edge when it is in Berubus, Muara Kaman Ulu village which is well known by the name of Continental long. At that time there was a kingdom of the watercourse to its very busy as it visited the seaside.

At that time the kingdom of the daughter is a beautiful dainty. The daughter called Putri Aji Bedarah White. He was named so not because when the daughter is eating betel sepah water and swallow the water appeared red betel which is flowing through her esophagus.

Loveliness and whimsicality Putri Aji Bedarah White also heard this one by the King China soon depart with Jung large army and its troops in the harbor and the sea front of the palace Aji Bedarah White. China King is soon up to apply for land lovely daughter.

Before the King of China's proposal, by the king's first daughter was served with a meal together. But China's luck for the King, he does not know that he was tested by the middle daughter who is not only beautiful but also graceful and wise clever. Eat in the middle of the repast, daughter cringe to see the squalor of the dining guests. China King is apparently a way to eat a sip, do not take the hand but with a mouth like a dog.

How disgusted daughter Aji Bedarah White and he also felt the shoulder, as if the king does not respect China is beside himself clearly can not adapt. When the application is complete and santap China King asked, and immediately reject the daughter with the full wrath and said, "How contemptible be paired with the daughter of a man who do you eat like a dog just a sip."

Contempt of extremes, of course, raised the ire also remarkable that the King of China. Already rejected lamarannya raw, mortification also received. Because very ashamed and murkanya, there is no way other than redeemed with all the violence to subjugate Putri Aji Bedarah White. He was soon to jungnya for all the troops back with a strong army to destroy the kingdom and captivating daughter.

There were also terrible war between the Chinese army troops who have come like waves of the sea tide against army troops Aji Bedarah White. In fact the army Bedarah Aji White can not repel invasion of Chinese troops with a violent rampage. Daughter who witnessed the fight the way that is not balanced mix of feel sad furious. He has to imagine that the battle will be won by the Chinese army. Therefore the wrath arise.

Putri was immediately while eating betel say, "If I am correct this bead fairy king, so this water sirihku-centipede centipede that can destroy the King and the entire Chinese army troops." Done said so, remove the water from the mouth to the betel-way battle of the middle it happens. With a glance betel daughter before the water turns to thousands of head of the centipede-large, and with pitiless attack Chinese army troops that are a rage.

Chinese army troops who fought with the burly that destroyed one by one. Soldiers who know the centipede attack that is not challenged, the immediate run-latitude crotch to jungnya. Similarly, the King. They intend to leave soon akan Muara Kaman with a gigantic centipede, but apparently they were not given the opportunity by the centipede centipede-Muara Kaman to leave alive. Because centipede centipede-oath was to destroy the King and the Chinese army troops, then attack them with a wave continued to Jung China. King and the whole Chinese army troops can not be around to any more and finally destroyed them all. Jung also drowned them.

Meanwhile Bedarah White Aji soon disappear with the supernatural, either to go along with gaibnya and daughter, the supernatural also Sumur Water Which, as the strength of the magic kingdom. Place Jung King Chinese drowned and marine mendangkal later became a land with the knowledgeable and it is now referred to by the name of Lipan Lake ...

Versi Indonesia :

Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.

Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.

Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.

Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.

Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing.

Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, “Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing.”

Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.

Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih. Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.

Putri pun segera makan sirih seraya berucap, “Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya.” Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.

Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.

Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.
read more “Legend Of The Origins At Lipan Lake”

Monday, June 01, 2009

Pelican Girl



Native American - Miwok Tale.

A long time ago, in the land of the South People, it was time for Pelican Girl to become a woman.

A special dance and ceremony was planned, to celebrate the event in the proper way of the South People.

All the people of the village gathered for the dance, including Little Owl, the Snipe family, and Coyote and his grandson Hawk Chief. All the right ceremonies were carried out for Pelican Girl.

“This party is so cool, ” said Pelican Girl to the Snipe sisters as they danced to the beat of the drum.

When the dance finally finished and the drums were quiet, the women of the village took Pelican Girl to the women’s house. She had to stay there until the moon had become small and then grown full size again.

When the moon had finished its cycle the women took Pelican Girl out of the house to receive her beads of womanhood. They placed the beads around her neck, wrists and ankles.

Pelican Girl was told that for the next few weeks she must stay close to the village and she was not allowed to gather food or bend down to pick up anything. This was the custom of the South People when a young maiden became a woman.

As Pelican Girl sat outside her home the Snipe sisters walked by with their pack baskets.

“Where are you going?” asked Pelican Girl.

“We're going to pick berries. Come with us and we'll tell you all the latest gossip,” answered the Snipe sisters.

Pelican Girl asked her mother if she could go, but her mother said no, because it was forbidden.

“I want to go! I want to go!” screamed Pelican Girl as she clenched her hands tightly and stamped her feet.

“It’s OK,” said the Snipe sisters to Pelican Girl’s mother. “We'll pick the berries for her.”

Finally her mother agreed. “OK, you can go but remember you're not allowed to pick any berries or bend over to lift anything off the ground.”

All day Pelican Girl did as she was told. She carried her pack basket but did not pick any berries.

Late in the afternoon, the girls headed back to the village. Pelican Girl was tired and walked slowly behind the Snipe sisters. Too busy talking to notice, the Snipe sisters got further ahead until they disappeared out of site around a bend in the trail.

Just then, Pelican Girl saw in the middle of the trail, a big goose that looked like it had fallen from the sky.

“Wow, look at that,” shouted Pelican Girl. She gently touched the goose with her foot.

“Maybe it had a heart attack or something?” she said. “Its feathers are so beautiful. My uncles could really use them.”

Forgetting her promise not to pick up anything, Pelican Girl bent over, picked up the goose and put it in her pack basket.

As she walked along the trail Pelican Girl thought to herself “This basket is becoming really, really heavy.”

Finally it became so heavy she had to put it down.

Just then she heard a strange noise and a man appeared in front of her basket.

“Little girl,” he whispered. “I want those beads around your neck and your wrists and ankles.”

Pelican Girl knew who it was.

It was Shoko, a powerful shaman from the North World where the fire-eaters lived. He had disguised himself as the goose so Pelican Girl would pick him up.

By breaking the custom of her people she had given him the power to carry her away to his land.

And that is what he did.

After Pelican Girl had removed her beads and thrown them to him, Shoko did a dance and spirited her off to the land of the North People where he hid her in a pit underneath a dance drum.

When the Snipe sisters returned to the village the people wanted to know what had happened to Pelican Girl.

The Snipe Girls were frightened. “We don’t know,” they said.

“We heard her say something about feathers, but when we went back to look, we couldn’t find her,” they cried.

So Coyote, the wise one, with some of the best trackers from the village and Pelican Girls mother, went to find her.

Coyote soon worked out what had happened.

“The people of the North World have taken her,” he said. “We must go there and rescue her.”

They ran along the trail towards the North World. When they reached the entrance to the North World valley, Coyote told everyone to stop.

Coyote knew that Shoko and the fighting men of the North World would be waiting for the South People to try and rescue Pelican Girl.

Coyote told Little Owl to take the shape of a bird and fly over the fighting men to give them a message.

Little Owl flew over where the fighting men were hiding and whispered to them “Coyote and the South People are not coming tonight. Go to sleep and rest.”

All the fighting men listened to Little Owl and went back to their house to sleep.

Coyote changed his people into mice and told them to get into his sack, which he then carried into the village.

Coyote let the mouse people out of his sack. They went round the North People, tying their long hair together. Then they chewed through their bowstrings and the sinews that held the stone heads on their spears and arrows.

When their work was done they changed back to people and looked for Pelican Girl.

Coyote found her underneath the dance drum. She was very sick and could not move.

Coyote picked her up and silently carried her through the house. But he accidentally stepped on one of the sleeping North People.

“Ooops,” said Coyote. “This can’t be good.”

The fighting man woke up and his shouts woke all the others.

But when the North People tried to stand up, they fell back again because their long hair had been tied together.

And they could not use their weapons either.

Coyote and the others escaped.

The North People had turned Pelican Girl into a fire-eater and Little Owl had to sing and dance for many days and nights to try and cure her. At last her body and spirit were cleansed and she was well again.

After time had passed, Pelican Girl married Coyote’s grandson, Hawke Chief and she became one of the women who taught the young girls of the village how to behave when it came time for them to become women.

Thanks to Pelican Girl’s experience, none of them ever made the mistake she did.
read more “Pelican Girl”

Asal Mula Gema_Dewi Kumandang


Pada jaman dahulu kahyangan adalah tempat dimana para bidadari yang berparas jelita dan dewa-dewa tinggal. Adalah seorang bidadari yang memiliki wajah paling jelita bernama Dewi Kumandang. Sesuai namanya, selain cantik, Dewi kumandang pun bersuara merdu mendayu. Meski banyak bidadari lain yang iri akan kecantikannya, namun banyak pula bidadari yang akrab dengannya. Itu karena Dewi Kumandang tidak pernah sombong dengan kelebihannya dan selalu ramah pada siapapun.

Salah satu bidadari yang membencinya adalah istri Betara Guru yang merupakan raja para bidadari dan dewa-dewa. Pasalnya Betara Guru terlihat jelas sangat menyukai Dewi Kumandang. Setiap hari selama berjam-jam betara Guru menghabiskan waktunya di taman sari hanya untuk mendengar dan melihat Dewi Kumandang menyanyi dan menari bersama teman-temannya.

Tidak hanya betara Guru yang tertarik pada Dewi Kumandang. Dewa-dewa lain pun telah banyak yang menawarkan cintanya, namun selalu ditolak dengan halus olehnya. “Saya masih belum mengerti masalah cinta,” katanya selalu. “Saya masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman tanpa beban.”

Namun isti betara Guru tidak percaya akan keluguan Dewi Kumandang. Menurutnya Dewi Kumandang hanya berpura-pura lugu untuk menarik hati para peminatnya. Hari ke hari bencinya kepada Dewi Kumandang semakin besar, hingga timbullah niat jahat di hatinya. “Akan kucelakakan dia,” batinnya.

Berbagai cara dilakukan untuk mencelakankan Dewi Kumandang, namun usahanya selalu gagal karena Dewi Kumandang selalu ditolong oleh teman-temannya. Hingga ssuatu hari saat Dewi Kumandang sedang mandi di telaga sendirian, istri betara Guru menghampirinya.
“Hai Dewi Kumandang! Kau bidadari rendahan! Bisamu hanya menggoda suami orang lain,” katanya.
“Wahai betari, ada apa gerangan paduka memarahiku? Apa kesalahanku?” tanya Dewi Kumandang.
“Ah, jangan pura-pura lugu. Bukankah kau sengaja menggoda para dewa dengan kecantikan dan suaramu? Hingga suamiku tergila-gila olehmu!” bentaknya. “Aku tidak akan menghabiskan energiku dengan bertengkar denganmu. Dewi kumandang, aku tidak suka suaramu yang menggoda itu, maka sejak saat ini, aku mengutukmu! Kau tidak akan lagi bisa berbicara apalagi bernyanyi. Kau hanya bisa menirukan satu patah kata terakhir yang terdengar di telingamu!”

Petir menggelegar selepas istri betara Guru melepaskan kutukannya. Dewi Kumandang ingin berteriak membela dirinya, namun tidak ada suara yang terdengar dari bibirnya. Tahulah ia bahwa kutukan itu sudah terjadi. Dewi Kumandang sangat bersedih, namun apa daya istri betara Guru adalah bidadari yang sangat sakti. Tidak ada yang bisa menolongnya mencabut kutukan tersebut.

Sejak saat itu Dewi Kumandang selalu bersembunyi. Dia malu dan takut dengan keadaannya. Akhirnya suatu malam Dewi Kumandang meninggalkan kahyangan dan turun ke bumi. Di bumi Dewi kumandang bersembunyi di sebuah gunung yang terjal. Dia pikir tidak akan ada yang datang ke tempat seperti itu. Namun suatu pagi dia menemukan seorang pemuda yang sangat tampan tergeletak pingsan di dasar jurang. Karena kasihan Dewi Kumandang menolongnya hingga pemuda itu siuman. Pemuda itu terkejut melihat seorang gadis yang sangat cantik di hadapannya.
“Hai, siapakah kau?” tanya pemuda.
Pemuda itu heran karena gadis itu bukannya menjawab malah menutup mulutnya erat-erat.
“Jangan takut!” kata pemuda. “Aku hanya ingin berterima kasih.”
Dewi Kumandang yang takut menirukan suara si pemuda, lari meninggalkan si pemuda yang terkejut melihat tingkahnya. Dengan susah payah pemuda itu berusaha mengejar Dewi kumandang.
“Tunggu!” kata pemuda.
“Tungguuuu…..” sahut Dewi Kumandang menirukan suara pemuda itu.
“Tunggu Dewi!”
“Dewiiii….” sahutnya.

Dewi Kumandang berlari semakin cepat hingga pemuda itu tidak bisa mengejarnya. Sejak saat itu Dewi Kumandang tidak pernah menampakkan diri. Kita hanya tahu keberadaannya kalau kita berteriak di pegunungan. Jika teriakan kita ada yang meniru atau berkumandang, artinya di sanalah Dewi Kumandang berada.
read more “Asal Mula Gema_Dewi Kumandang”

Pohon Bernyanyi


Di sebuah kota pelabuhan yang ramai tinggallah seorang anak perempuan yatim piatu. Gadis namanya. Ayah dan ibunya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Sejak itu Gadis tinggal bersama bibinya. Namum bibinya sangat kasar kepadanya. Gadis amat sedih. Akan tetapi ia mencoba tabah dan sabar.

Gadis adalah anak yang rajin. Ia berusaha mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Salah satunya adalah mengambil air dari sumur. Letak sumur itu sangat jauh dari rumah. Untunglah di tengah jalan ada sebatang pohon tua yang besar dan rimbun. Gadis sering singgah di bawah pohon itu untuk melepas lelah.

Kadang-kadang, Gadis menangis sedih di bawah pohon itu. Ia merasa sendirian di dunia ini. Ia tak tahu harus mengadu kepada siapa. Diantara isak tangisnya, Gadis senantiasa berdoa agar Tuhan menjaga dan menolongnya. Anehnya, setiap kali ia menangis, pohon itu selalu mengembangkan ranting-rantingnya. Daun-daunnya bergerak dengan lembut dan berirama. Desiran halusnya bagaikan nyanyian merdu. Gadis selalu terpesona mendengarnya. Sehingga ia lupa akan kesedihannya. Bahkan sampai tertidur. Bila ia tertidur pohon itu menundukkan ranting-ranting daunnya. Supaya Gadis terlindung dari panas matahari. Jika Gadis terlalu lama tertidur, pohon itu akan menjatuhkan daun-daunnya ke pipinya yang halus. Gadis jadi terbangun karenannya.

Hari demi hari pun berlalu.. Raja akan membuat sebuah kapal pesiar. Pohon-pohon tua yang ada akan ditebang. Kayunya digunakan untuk membuat kapal. Gadis menjadi gelisah, ia cemas kalau pohon tuanya akan turut ditebang.

Siang itu, sepulang mengambil air dari sumur, Gadis singgah sejenak di bawah pohon tuanya. Ia melihat tanda silang putih pada batang pohon itu. Berarti pohon kesayangannya akan ditebang. Hati Gadis sedih sekali. Ia tidak bisa berkata-kata. Air matanya mengalir deras. Tanggannya memeluk pohon yang dikasihinya.

"Pohonku, mungkin hari ini adalah hari terakhir perjumpaan kita. Esok mereka akan menebangmu. Aku akan kehilangan satu-satunya teman yang kumiliki. Aku sedih sekali. Tapi aku tak dapat mencegahnya. Selamat jalan pohonku," isak Gadis.

Seperti hari-hari yang lalu pohon itu kembali menundukkan ranting-rantingnya dan daun-daunnya. Seolah-olah memeluk Gadis. Daunnya mengusap lembut pipi Gadis. Tak terdengar nyanyian dari pohon itu.

"Jangan sedih, anak manis. Kapal itu tak akan berlayar tanpa kehendakmu. Naiklah dan ikutlah berlayar bersamanya kelak. Maka kita akan bersama-sama lagi," bisik pohon itu menghibur hati Gadis.

Esok pagi pohon itu ditebang. Beberapa bulan kemudian selesailah kapal yang diinginkan Raja. Sebuah pesta meriah diadakan saat kapal itu akan berlayar untuk pertama kalinya. Namun ketika akan diluncurkan, kapal itu sedikitpun tak mau bergerak meninggalkan dermaga. Penduduk mencoba mendorongnya. Namun kapal itu tetap tak bergerak. Raja menjadi kecewa dan marah.

Berita mengenai kapal yang tak mau bergerak itu akhirnya terdengar oleh Gadis. Ia teringat pada pesan terakhir pohon tuanya. Dengan susah payah Gadis pergi ke pelabuhan kota. Dan berhasil menemui Raja. Ia minta izin agar boleh melayarkan kapal tersebut. Raja semula tak percaya. Tapi karena kapal itu tak mau bergerak, akhirnya Raja mengizinkan. Gadis pun bergegas naik ke atas kapal. Penuh rindu diusapnya anjungan kapal itu.

"Pohonku, tolonglah aku. Bergeraklah, berlayarlah .. Seluruh penduduk kota ini ingin menyaksikan engkau berlayar ke lautan lepas."

Semua orang berdebar menanti apa yang akan terjadi. Kapal itu bergerak sedikit demi sedikit. Lalu lepaslah ia dari sandarannya. Dengan tenang ia melaju ke laut. Penduduk kota bersorak gembira. Raja tak kurang pula gembira hatinya. Gadis dipeluknya.

"Bagaimana engaku bisa membuatkapal ini berlayar?" tanya Raja dengan takjub bercampur heran.

"Berkat rahmat Tuhan, Yang Mulia. Kebetulan kapal ini terbuat dari kayu pohon tua sahabat saya, " jawab Gadis dengan santun.

Kemudian Gadis menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Raja. Hati Raja tersentuh. Sejak itu Gadis tinggal di istana dan menjadi anak angkat Raja.
read more “Pohon Bernyanyi”

Why the Sea is Salt



Long ago, there lived two brothers. The older brother was rich and successful, but mean and arrogant. The younger brother was very poor, but kind and generous.

One day the poor brother and his wife found that they had nothing to eat in their house. They had no money either, and nothing that they could sell. To make matters worse, the next day was a holiday, a day of celebration.

'Where are we going to get something to eat? Tomorrow is a holiday. How will we celebrate?' asked the poor brother's wife in tears.

The poor brother was in a fix. He did not know what to do.

'Go to your brother and ask for his help,' suggested the poor man's wife. 'He killed a cow yesterday - I saw him. Surely he will not grudge us a little meat for the holiday?'

The poor man sighed. He did not like to ask his brother for help, for he knew how mean and selfish his brother was. But the next day was a holiday, and he really could not think how else to get something to eat.

So the poor man put on his ragged cloak and walked to his rich brother's house.

'What do you want?' asked the rich brother as soon as he saw the poor man.

'Why do you come here?' cried the rich man's wife. 'Tomorrow is a holiday, and we are busy preparing the feast. Go away, we have no time for you!'

'Brother,' said the poor man, 'We have nothing to eat in the house, no food to celebrate the holiday. Lend me a little meat, so that I and my wife may also celebrate.'

'I knew it!' shrieked the rich man's wife at her husband. 'I knew your brother would come begging one day. Throw him out!'

The poor man ignored his brother's wife. 'Please, brother,' he said, looking at the rich man.

'Oh very well,' grumbled the rich man. 'Take this - and go to Hiysi!' And he threw a cow's hoof at the poor man.

The poor man thanked his brother, and wrapping the cow's hoof in his tattered cloak began walking back to his house. As he walked he thought, 'My brother did not give me the cow's hoof. He has told me to take it to Hiysi. So this piece of meat is not mine to eat, but Hiysi's. I must take it to Hiysi.'

Hiysi the Wood-Goblin lived deep in the forest. So the poor man turned around and started walking towards the forest. The forest was dark and gloomy, but the poor man was determined to deliver the cow's hoof to Hiysi. So he walked and he walked through the trees.

After a while he met some woodcutters.

'Where are you going, so deep in the forest?' asked the woodcutters.

'To Hiysi the Wood-Goblin's,' replied the poor man. 'I have this cow's hoof for him. Can you tell me how to find his hut?'

'Keep walking straight ahead,' said the woodcutters. 'Turn neither left nor right, and soon you will be at Hiysi's hut. But listen carefully. Hiysi loves meat. He will offer you silver and gold and precious stones in gratitude. Don't accept any of those. Ask instead for his millstone. If he tries to offer you something else, refuse. Ask only for his millstone.'

The poor man thanked the woodcutters, and walked on. Very soon he saw a hut. He went inside, and there sat Hiysi, the Wood-Goblin himself.

'Why have you come here?' asked Hiysi.

'I have brought you a gift,' said the poor man. 'A cow's hoof.' And he held out the piece of meat to Hiysi.

'Meat!' cried Hiysi in delight. 'Quick, give it to me! I haven't eaten meat for thirty years!' Hiysi grabbed the hoof and ate it.

'Now I shall give you a gift in return,' said the Wood-Goblin. 'Here, take some silver,' he said, pulling out a handful of silver coins.

'No, I don't want any silver,' said the poor man.

'Gold, then?' offered Hiysi, pulling out two handfuls of gold coins.

'No. I don't want gold either,' said the poor man.

'How about some precious stones?' asked Hiysi. 'Diamonds, rubies, sapphires?'

'No, thank you, I don't want any of those either,' said the poor man.

'Well, what do you want then?' asked Hiysi.

'I want your millstone,' replied the poor man.

'My millstone!' exclaimed Hiysi. 'No, you can't have that. But I can give you anything else you like.'

'That's very kind of you,' said the poor man, 'but I only want your millstone.'

Hiysi did not know what to do. He had eaten the cow's hoof, and could not let the poor man go without a gift in return.

'Oh well,' he said at last. 'I suppose I must let you have my millstone. Take it. But do you know how to use it?'

'No,' said the poor man. 'Tell me.'

'Well,' explained Hiysi, 'this is a magic millstone. It will give you whatever you wish for. Just make your wish and say Grind, my millstone! When you have enough and want the millstone to stop, just say Enough and have done! And it will stop. Now go!'

The poor man thanked Hiysi, and wrapping the magic millstone in his tattered cloak, began walking back towards his home.

He walked and he walked and he walked, and at last reached his home. His wife was weeping, having given him up for dead. 'Where have you been?' she cried. 'I thought I'd never see you again!'

The poor man told his wife the tale of his adventures. Then, setting the magic millstone on to the table, he said, 'Grind, my millstone! Give us a feast fit for a king.'

The millstone began to grind, and there on the table poured the most wonderful dishes ever. The poor man and his wife ate and ate till they could eat no more.

'Enough and have done!' commanded the poor man, and the millstone stopped grinding.

The next day the poor man and his wife celebrated the holiday happily. There was enough to eat, and new clothes to wear. From then on they never lacked for anything. The millstone gave them a fine new house, green fields full of crops, horses and cattle, and enough food to eat and clothes to wear. Soon they had so much that they did not really need to use the millstone any more.

The rich brother heard of the poor man's change of fortune. 'How could my brother have become rich so suddenly?' he wondered. 'I must find out.' So the rich brother went to the poor brother's house.

'How have you become rich so quickly?' he asked.

The poor brother told him everything - about Hiysi and his gift of the magic millstones. 'I must get that millstone for myself,' thought the rich brother. 'Show me the millstone,' he demanded.

The poor brother, not suspecting his brother of any wickedness, did so. He put the millstone on the table and said, 'Grind, my millstone! Give us good things to eat.' At once the millstone began turning and out poured the most delicious pies and cakes and breads on the table.

The rich brother could not believe his eyes. 'Sell me your millstone!' he begged of the poor brother.

'No,' said the poor man. 'The millstone is not for sale.'

'Well then, lend it to me for a bit,' said the rich brother. 'After all, it was I who gave you the cow's hoof to carry to Hiysi!'

The poor brother thought for a bit. What harm could there be in letting his brother have the millstone for a while?

'Very well, you may borrow it for a day,' said the poor man.

The rich brother was delighted. He grabbed the millstone and ran off with it, without asking how to make it stop. He put the millstone into a boat, and rowed out to sea with it, where the fishermen were hauling in their catch of fish.

'The fishermen are salting the fish right now,' he thought. 'They will pay well for fine salt.' He was far out to sea by now, far away from any land. There was no one to hear him as he said 'Grind, my millstone! Give me salt, as much as you can!'

The millstone began to turn and out poured the finest, whitest salt imaginable. Soon the boat was full. The rich man decided to stop the millstone. But he did not know how. 'Stop, my millstone!' he cried. 'Stop grinding. I don't want any more salt.' But the millstone kept turning, pouring out the finest whitest salt.

The rich man begged and pleaded with the millstone to stop. But he did not know the magic words. So the millstone kept turning and pouring out salt and more salt. The rich brother tried to throw the millstone overboard, but he couldn't lift it. The boat was now so full of salt that it began sinking.

'Help!' cried the rich man. But there was no one there to hear him.

The millstone kept turning, pouring out salt, and the boat kept sinking till it sank to the bottom of the sea with the rich man and the millstone.

The rich man drowned for his greed.

But the magic millstone kept turning, even at the bottom of the sea, pouring out the finest whitest salt. It is turning there to this very day, making more and more salt.

And that, believe it or not, is why the sea is salt.
read more “Why the Sea is Salt”
SEARCH